Ada yang tak kembali di stasiun itu

1.

Satu jam lagi, kita akan tiba di stasiun. tiba-tiba kamu melambatkan langkahmu. Seperti ada rindu yang harus ditambat. 

“Hari masih pagi. Jangan berjalan terlalu cepat.” katamu.
Jarak waktu dari kontrakan dengan stasiun adalah satu jam jika ditempuh dengan berjalan kaki. 

Pagi masih begitu buta, embun masih beraroma basa. Dan aku sudah bisa mencium ranum sebuah kerinduan. milikmu kah?

Satu jam lagi, kereta akan membawaku pergi. Selagi sempat, kamu begitu lekat mengamati wajah manisku.

“aku akan menghabiskan waktu seharian bersama Sahabatku.  Nanti sore, sekitar jam 6, jemput aku kembali di stasiun.”
“iya.”
Kamu menggandeng erat tanganku dan mulai membicarakan kelahiran anak kita. Sepanjang perjalanan, kita tak henti hentinya mempeributkan anak kita kelak. Dari mulai jenis kelamin, kemiripan wajah, nama dan banyak hal.

***
2.
Stasiun pukul enam sore.
Seorang lelaki duduk dibangku tunggu. Ia datang untuk memenuhi janjinya. Tak berselang lama, dari kejauhan terdengar suara klakson kereta.

Tu…t tu….t.

Orang-orang segera bergegas dari duduknya, mempersiapkan sambutan, senyuman, bahkan pelukan hangat. Tapi tidak dengannya. Wajahnya setara dengan langit malam, begitu muram. Lelaki itu sedang berdurja. Bahkan ketika kereta yang ketiga tiba, ia tidak juga beranjak seperti yang orang-orang lakukan. Sebab ia tahu:
Istrinya tidak akan kembali. 
Tidak akan pernah.
 Sekali lagi, lelaki itu datang untuk memenuhi janjinya. Tapi tidak untuk menjemput istrinya.
***

3.  Mata puteriku berkaca. Sahabatnya tidak datang. Memang tak datang. Ini semua rencana kami. 

Aku segera menggandeng tangannya dan menghapus air matanya. Dengan berat hati, Puteriku berjalan mengikutiku.

Langkahnya mengingatkanku pada suara dering telephone malam itu.

Dari seberang sana terdengar suara menantuku nun getir.

"Ibu, aku tak sanggup membahagiakannya. aku kembalikan dirinya padamu. Bawalah ia pulang ke Jawa bu. Jemput dia di Stasiun Banyuwangi Baru. Aku bilang, sahabatnya ingin bertemu,"



Tidak ada komentar:

Posting Komentar